Dalam skala tertentu saya memang menyukai kopi, namun bukan pada tingkat yang mampu merasakan bedanya arabika-robusta atau kopi dari dataran Gayo dengan yang berasal dari tanah Toraja. Ketimbang kopi-kopi specialty itu lidah saya lebih akrab dengan kopi saset yang banyak beredar di pasaran.

Kalau dirunut kebelakang, perjalanan perkopian saya memang dimulai dari kopi saset yang dijual akang-akang penjaja bubur kacang ijo sekira belasan tahun lalu. Semenjak itu saya mulai menyukai kopi dan entah kenapa saya selalu merasa ada kemewahan dalam secangkir kopi sekalipun hanya kopi saset yang rasa gulanya menempel kuat di pangkal tenggorokan.

Salah seorang kawan  yang dulu menjadi teman satu meja saat saya untuk pertama kalinya mencicipi kopi specialty pernah bilang bahwa racikan kopi saset itu adalah racikan paling pas untuk ngopi, pun demikian dengan beberapa kawan di tempat saya mengais penghidupan saat ini juga menyatakan hal yang senada dan saya meng-amin-kan pernyataan mereka.

Persoalan yang kemudian mampir di benak adalah mengapa masyarakat dari sebuah negara yang terkenal sebagai penghasil kopi terbesar ketiga di dunia seakan menyepakati bahwa kopi hasil olahan pabrik besar -yang konon katanya berbahan baku biji kopi kualitas rendah- sebagai racikan yang pas di lidah.

Saya sempat berasumsi kalo pola konsumsi kopi kebanyakan masyarakat tercetak akibat kuasa kapital pabrik-pabrik pengolahan kopi dengan iklan produk kopi siap saji -dengan gula atau krimer- yang begitu masif. Melalui iklan-iklan itulah masyarakat mulai ditanamkan keyakinan bahwa kopi yang enak itu ya kopi instan dari pabrikan. Bersamaan dengan itu biji-biji kopi dengan kualitas yang baik justru banyak diperuntukan untuk pasar luar negri yang pada akhirnya menyisakan kopi kualitas rendah untuk dinikmati warga negara ini. Entah benar atau tidak asumsi itu.

Dan ketika kemudian era digital memungkinkan terjadinya pertukaran informasi yang begitu cepat dan tidak lagi didominasi oleh media-media mainstream. Masyarakat mulai banyak yang memperbincangkan -bahkan memperdebatkan- tentang ukuran kopi yang enak, baik melalui blog, media sosial dan kanal digital lainnya.

Harus dimasak sampai tingkat kematangan tertentu, harus digiling dengan tingkat kelembutan/kekasaran tertentu, harus disajikan dengan teknik ini-itu, harus diseduh dengan air dengan suhu tertentu, dan harus-harus yang lainnya. Belum lagi perdebatan tentang kopi specialty dan kopi saset, dengan gula atau tanpa gula.

Semakin riuh-nya perbincangan yang juga beriringan dengan tumbuhnya kelas menengah, bertumbuhlah pula kedai atau warung kopi yang mulai menyajikan kopi-kopi yang menurut pengakuan mereka sendiri berkualitas baik dari seantero negeri disertai dengan berbagai teknik penyeduhan, mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling rumit. Selain menyajikan kopi sebagai minuman, kedai-kedai tersebut -baik besar maupun kecil- juga memberi ruang untuk pembicaraan mengenai kopi sebagai gaya hidup sekaligus memuaskan hasrat eksis sebagian pengunjungnya.

Terlepas dari semua perdebatan perbincangan tentang minuman kopi, salah seorang kawan saya pernah bilang, mau arabika atau robusta, mau gayo atau toraja, mau kapal api atau torabika, selama ia mampu memberikan kepuasan jasmani dan rohani peminumnya mari beri penghargaan sebagai kopi yang enak.

Apapun nama yang melekat padanya, kopi tetaplah kopi. Untuk menikmatinya, jadilah sederhana.