Ulasan

Membaca Berita Seasyik Bacaan Sastra

Satu hari sebelum pergantian tahun, sewaktu matahari masih malu-malu menampakan diri, saya menuntaskan membaca buku yang diterbitkan oleh Pindai Media berjudul #Narasi: Antologi Prosa Jurnalisme. Fahri Salam, editor dan salah satu penulis di buku ini, dalam pengantarnya menyebut bahwa internet mengubah iklim media dan cara masyarakat mendapatkan informasi. Berita-berita cepat dengan satu dua narasumber, judul yang bombastis dan model artikel cepat saji begitu mendominasi di ranah daring. Ia juga menyoroti ritme kerja media yang menuntut seorang jurnalis untuk menyetor banyak artikel dalam sehari, ini tentu berkaitan dengan waktu sehingga para jurnalis sulit meluangkan waktu untuk melakukan liputan panjang dan mendalam. Sebuah inisiatif untuk terus mengembangkan penulisan panjang di ruang-ruang maya ditandai dengan tagar #longreads atau #longform dan sepertinya buku ini juga salah satu upaya itu.

Membaca delapan belas reportase hasil liputan panjang dalam 466 halaman membawa pengalaman baru bagi saya; menjadi sentimentil saat ikut menelusuri kejayaan musik indie di Jakarta, gemetar ketika tenggelam dalam kisah penculikan dan pembunuhan saat konflik di Aceh. Marah saat membaca laporan konflik agraria di Jambi dan Urutsewu juga kekerasan seksual di Timor Leste, tegang dan gemas melihat fenomena Syiah di Madura, lalu menjadi begitu gembira kala mengikuti cerita tentang Indian Amerika dan suporter klub bola lokal di Lamongan pun dengan narasi-narasi lainnya, seperti membaca fiksi emosi dimainkan melalui konflik, karakter, alur cerita, dan gaya bahasa. Dan karena ini adalah hasil kerja jurnalisme tentu saja semua yang dikisahkan berdasarkan fakta.

Dari delapan belas cerita, beberapa yang sangat saya suka adalah Mereka Sibuk Menghitung Langkah Ayam yang ditulis oleh Rusdi Mathari. Ia berhasil menangkap fenomena konflik Syiah di Madura dan membangun alur cerita yang menjadikan kondisi saya sebagai pembaca jadi kesal, tegang juga gemas secara berbarengan. Terekam Tak Pernah Mati oleh Raka Ibrahim, yang mencoba menelusuri masa keemasan skena musik independen Jakarta juga menjadi artikel yang begitu sentimentil dan menarik dalam buku ini. Narasi Raka menjadi sentimentil karena terasa begitu dekat, hal-hal yang ketika saya tumbuh remaja hanya berupa bayang-bayang samar menjadi jelas disini. Lalu ada Andreas Harsono yang menceritakan profil seorang Tionghoa, penuturannya dalam Hoakiao Dari Jember lebih seperti penuturan seorang teman yang sedang bercerita di kedai kopi, begitu luwes dan runut dengan akhir cerita mengejutkan yang memaksa saya mengeluarkan pisuhan sembari tertawa –asuuuu.

Buku ini cocok bagi yang berminat pada dunia jurnalistik. Sebuah gaya dalam jurnalisme, dimana hasil liputan ditulis selayaknya menulis prosa yang seringkali disebut juga sebagai jurnalisme sastarawi. Mengutip tulisan Andreas Harsono di situs pantau.or.id, “Jurnalisme sastrawi” adalah satu dari setidaknya tiga nama buat genre tertentu dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat di mana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca.

 

 

Standard