Deretan kepala berbahan keramik; berwarna hijau; bermacam ekspresi; dengan aneka jenis peralatan makan diatasnya; bersama sebuah mesin kinetik; dapat menghasilkan bunyi-bunyian seperti yang biasa dihasilkan para pedagang bakso keliling untuk menarik pembeli. Namun kali ini terdengar begitu ritmis, unik dan asik. Keriuhan bunyi yang disajikan Arya Pandjalu dalam karya berjudul Electric Earth menyambut saya dan beberapa pengunjung Galeri Nasional suatu siang yang sejuk.

Melalui karya berwujud kepala itu Arya menyajikan penggambaran manusia sebagai makhluk yang senantiasa bertumbuh dalam hidup yang berseberangan dengan aktivitas mekanis yang diciptakannya sendiri. Ia dengan sangat cermat menggunakan warna hijau sebagai penggambaran dari warna organik alam sekitar manusia.

Pameran yang merupakan perhelatan seni keramik kontemporer terbesar di Asia Tenggara ini bertajuk The 4th Jakarta Contemporary Ceramics Biennale “Ways of Clay: Perspectives Toward The Future” menampilkan 41 seniman keramik dari berbagai negara. Dalam rilis resminya, pada gelaran kali ini JCCB akan menafsirkan sejarah sebagai perspektif dalam memahami praktik seni keramik ke depan.

Electric Earth karya Arya Pandjalu
Electric Earth karya Arya Pandjalu | © Wahyu Murtiwidodo

Karya Arya Pandjalu yang menempati gedung A Galeri Nasional berdampingan dengan banyak karya lainnya, salah satu yang begitu mencolok adalah karya dari seniman Jepang Takashi Hinoda. Menempati salah satu sudut, Takashi menyajikan penafsiran dari kebudayaan masyarakat modern terutama budaya urban. Ada tujuh figur dengan warna-warna yang atraktif juga bentuk yang imajinatif. Disusun seperti sebuah set dalam panggung lengkap dengan pemain gitar, DJ dan penggebuk drum.

Selain itu, ada sebuah karya yang cukup menarik berjudul Greedy, Edi Prabandono sang seniman menyusun banyak sekali piring di atas sebuah bangku yang disela-selanya diberi tanah dan ditanami bibit padi. Menurut keterangan penjaga pada saat pameran dibuka 7 Desember lalu, tanaman padi itu belum tumbuh rimbun seperti pada foto ini.

Memasuki gedung B kita akan disambut karya dari salah satu seniman perempuan, Eva Larsson bertajuk Stargazed. Seniman yang berasal dari Swedia ini menyajikan lima belas patung perempuan, delapan diantaranya bergantungan masing-masing pada seutas tali dan sisanya terletak pada meja persis dibawahnya.

Greedy karya Edi Prabandono
Greedy karya Edi Prabandono | © Wahyu Murtiwidodo
In My Room karya Kyoko Uchida
In My Room karya Kyoko Uchida | © Wahyu Murtiwidodo

Pada bagian tengah Kyoko Uchida mengambil setengah dari ruangan untuk mempresentasikan karya berjudul In My Room; lantai yang dicat putih menjadi alas bagi sembilan patung dengan berbagai posisi mulai dari telentang, bersender, dan banyak posisi lainnya. Karya ini seperti hendak mengatakan pada kita bahwa apapun bisa dilakukan jika seseorang berada dalam area pribadinya.

Dekat dengan pintu masuk gedung C deretan tengkorak dengan berbagai gambar akan langsung tampak menonjol. Seniman Panca DZ yang memiliki ketertarikan dan riset mengenai budaya tato memilih medium tengkorak yang dianggap memiliki keterkaitan erat dengan tato itu sendiri.

Pada bagian lain, karya berjudul Butterfliesmilik Antonella Cimatti begitu menarik perhatian saya. Karya keramik berupa kupu-kupu yang dibentuk oleh porselen sebagai satu sayap lalu dengan bantuan sorot sinar lampu yang lembut menghasilkan bayangan untuk membentuk satu sayap lainnya. Saya menangkap gagasan ini sebagai cerita bahwa yang nyata dan yang tidak nyata —melalui penggambaran bayangan— dapat berdampingan menghasilkan sesuatu yang bermakna bisa dilihat secara visual.

Tengkorak bertato karya Panca DZ
Tengkorak bertato karya Panca DZ | © Wahyu Murtiwidodo

Di bagian ujung gedung C terdapat dua layar besar yang dipisahkan dengan kain hitam, bagian kanan menayangkan video berjudul “The Poetry of Michaelangelo”karya Geng Xue yang menceritakan proses penciptaan karya seni dari material tanah liat atau lempung. Pada sisi bagian kiri ditayangkan stop motion berjudul “Mr. Sea” yang jugakarya Geng Xue, yang menarik Geng menggunakan patung-patung keramik, mulai dari pemeran pria dan wanita, latar pepohonan sampai ular kesemuanya adalah keramik yang digerakkan dengan menggunakan tali. Jika anda datang dengan anak-anak saya sarankan untuk tidak melihat video ini karena sarat dengan adegan dewasa.

Pameran ini masih akan berlangsung sampai 22 Januari 2017 di Gedung A, B dan C Galeri Nasional Indonesia.

*Diterbitkan pertama kali di situsweb minumkopi.com