Dibuka dengan percakapan seorang gadis dengan seorang pemuda. Selanjutnya Mahfud Ikhwan -penulis novel ini akan menarasikan kepada kita konflik sosial tentang pertentangan antar paham agama. Antara tradisionalis dan pembaharu dengan balutan kisah asmara ala Romeo & Juliet. Miftahul Abrar dan Nurul Fauzia bersama kisah cinta mereka akan membawa kita pada peliknya pertentangan paham agama yang terjadi di akar rumput.

  • Judul                     : Kambing & Hujan; Sebuah Roman
  • Penulis                   : Mahfud Ikhwan
  • Penerbit                 : Bentang Pustaka
  • Terbit                    : Cetakan pertama, Mei 2015
  • Tebal                     : 374 halaman

Cerita bermula dari pertemuan Mif dengan Fauzia di bis menuju Surabaya. Dua orang dari satu desa kecil bernama Centong, yang walaupun begitu, Mif dan Fauzia tak pernah tumbuh bersama sebagai teman, bukan karena jarak rumah yang berjauhan, lebih disebabkan oleh paham agama yang berseberangan diantara kedua orang tua mereka juga perbedaan lingkungan masing-masing dimana mereka tumbuh. Perbedaan antara Masjid Utara dengan Masjid Selatan, antara Muhammadiyah dan Nahdlahtul Ulama.

Mif dan Fauzia yang saling mengetahui nama masing-masing namun justru baru bertatap muka pada usia dewasa mulai menjalin hubungan. Sejak awal mereka memang meyakini bahwa hubungan yang dibina akan menemui kesulitan. Sebab-sebab kesulitan itulah yang diceritakan dengan sangat apik oleh Mahfud Ikhwan.

Intrik-intrik yang terjadi mulai dari sebelum munculnya perbedaan paham agama di desa Centong yang melibatkan keluarga Mif dan Fauzia sampai pada usaha dua sejoli wakil Masjid Utara dan Masjid Selatan meruntuhkan tembok besar penghalang yang dibangun oleh bapak-bapak mereka, disajikan dengan alur cerita yang dibuat maju-mundur, sudut pandang yang bervariasi -terkadang pembaca harus menebak sudut pandang tokoh mana yang sedang dipakai. Bahasa yang ringan dan tidak njilemet. Pantas saja kalau roman ini diganjar hadiah sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta 2014.

Jika hanya sepintas cerita asmara dua muda-mudi Mif dan Fauzia akan terkesan sebagai inti cerita, namun disinilah kelihaian Mahfud Ikhwan dalam meramu cerita. Justru kisah cinta Mif dan Fauzia hanyalah rempah-rempah untuk membumbui sajian utama yang merekam sejarah konflik sosial antara dua organisasi Islam di masa itu.

Mahfud Ikhwan berhasil menyajikan secuil rekaman sejarah dalam sebuan novel yang sungguh sayang jika dilewatkan.