Hari gini masih beli album CD?”

Seorang teman menodong dengan pertanyaan semacam itu ketika dia tahu kalau saya baru saja membeli album fisik dari band indie.

Pertanyaan yg terdengar wajar kalo melihat perkembangan saat ini. Di jaman ketika musik sangat mudah didapat melalui ranah digital, hanya perlu beberapa klik untuk mendapatkan lagu favorit baik secara legal maupun ilegal.

Lantas kenapa masih membeli rilisan fisik? Ada pengalaman yang berbeda ketika mendengarkan musik dari rilisan fisik, pengalaman yang mungkin gak akan didapat ketika musik yang didengar berasal dari unduhan digital. Pengalaman yang sama seperti yang didapat ketika kita mendengar musik secara live. Pengalaman yang sama yang saya dapat ketika membaca buku fisik ketimbang membaca ebook,subjektif memang.

Buat saya album fisik itu menyenangkan, tidak sekedar membeli musik tapi juga karya, walaupun musik itu sendiri sudah merupakan karya. Membeli rilisan fisik berarti membeli keseluruhan karya dari pemusik itu sendiri. Apalagi untuk band-band indie, biasanya mereka merilis album dengan kemasan yang unik dan seringkali disertai art work yang nggilani. Seperti ketiga album yang baru saja saya beli beberapa hari lalu.

Ketiga album yang kesemuanya beraliran folk -lain waktu saya mungkin akan bercerita tentang jenis musik ini- mempunyai keunikan tersendiri, album Silampukau contohnya, walau hanya menggunakan bahan kertas tapi mereka mendesain sistem sliding untuk tempat kepingan cd-nya.

Lain lagi dengan album milik Teman Sebangku, selain kepingan cd mereka juga menyertakan berbagai macam foto yang buat saya sih sangat menyenangkan mata. Sedangkan pada album AriReda yang menarik adalah selipan cerita tentang pertemuan keduanya yang ditulis oleh pengamat musik dengan susunan dan pilihan kata yang menurut saya indah banget, dan itu keren.

Jadi membeli rilisan fisik adalah kepuasan paripurna. Musik bagus, art work bagus. Mata, telinga dan imajinasi bermain bersama. Semua indera terpuaskan.